Awas, Ada Relawan Abal-abal pada Pilkada




Pakar komunikasi politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio, menilai, perlunya diwaspadai relawan abal-abal yang mengaku berafiliasi pada pasangan calon tertentu untuk mencapai tujuannya sendiri dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Mungkin-mungkin saja, ada yang ingin memanfaatkan keadaan untuk kepentingan mereka atau kelompoknya masing-masing dengan pura-pura jadi relawan," kata Hendri saat berbincang dengan Kompas.com, Kamis (6/4/2017) petang.

Menurut Hendri, fenomena relawan ini mulai tumbuh subur di Indonesia sejak Pemilihan Presiden 2014.

Mulai dari saat itu, dalam pesta demokrasi, relawan selalu hadir dan mengambil peran terkait upaya pemenangan kandidat yang diusung.

Di satu sisi, menurut dia, relawan ini sulit untuk dikontrol. Bahkan, bisa saja semua orang mengklaim dirinya sebagai relawan salah satu pasangan calon tanpa tahu apakah benar-benar mendukung atau justru memiliki tujuan lain.

"Namanya pesta demokrasi, pesta, pasti semua orang pengin happy. Cara happy orang beda-beda. Begitu SARA masuk, mengatasnamakan relawan A, B, sulit mengecek ini relawannya siapa," ujar Hendri.

Kasus relawan yang tidak sejalan dengan pasangan calonnya itu terjadi dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

Calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, membantah akun Twitter @CangHaris sebagai relawan atau pendukungnya.

Padahal, dalam banyak tweet akun tersebut, pemilik @CangHaris mengaku sebagai pendukung Anies-Sandi.

Tim Anies-Sandi tadi siang secara resmi melaporkan akun @CangHaris ke Bawaslu DKI Jakarta karena dinilai sebagai akun provokatif serta merugikan Anies dan Sandi karena kerap menyertakan isu SARA.

source: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/06/19101221/.waspadai.relawan.abal-abal.pada.pilkada.

No comments

Powered by Blogger.